Ketika yang kau harapkan tidak berjalan seperti apa yang kau inginkan, berbesar hatilah..
"... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ..." (QS Ar Ra'd 13:11)
dan bersabarlah...
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al Baqarah 2:155)
Namun yakinlah, karena cobaan akan selalu datang sesuai dengan kemampuan penerimanya...
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ..."(QS Al Baqarah 2:286)
Mintalah pertolongan-Nya...
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'," (QS Al Baqarah 2:45)
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS Al Baqarah2:214)
Dan bila semuanya telah Ia berikan, bersyukurlah, karena Allah SWT telah berjanji...
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim 14:7)
Lantas...
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS Ar Rahman 55: 13,16,18,21,23,25,28,30,32,34,36,38,40,42,45,47,49,51,53,55,57,59,61,63,65,67,69,71,73,75,77)
"Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia." (QS Ar Rahman 55:78)
April 04, 2015
Desember 27, 2008
Desember 03, 2008
a Letter from Camp Hulu Cai
CHC, August 13th, 2008
Dearest MySelf..
Hari ini aku belajar banyak hal tentang apa arti seorang Ibu, teman, kekasih, persahabatan, dan kasih sayang.
Dalam kehidupan ternyata manis dan pahit justru kita sendiri yang menghadirkan. Hidup yang pahit akan menjadi manis apabila kita membuatnya manis, dan hidup yang manis akan menjadi pahit jika kita tidak bisa menghargai dan mensyukurinya.
Aku berjanji dalam hidupku bahwa ke depan aku akan menjadi orang sukses, sukses bagi diriku, sukses bagi ibuku, sukses bagi ayahku, sukses bagi adik-adikku, sukses bagi belahan jiwaku (I love u yuan), sukses bagi mertuaku, sukses bagi orang-orang yang selalu mendukung dan membanggakanku.
Betapa besar arti kehadiran mereka bagi kehidupanku, membuatku harus tetap menghargai, mengasihi, dan menyayangi mereka. Takkan pernah berubah dan takkan pernah terganti, kasih sayang memang indah untuk selalu dijaga dan dipertahankan.
Sukses bagi diriku adalah menjadikan aku seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap istri dan anakku kelak.
Sukses bagiku adalah menghargai, menghormati, mendoakan, dan menyayangi ayah dan ibu sepenuh hati.
Sukses bagiku adalah tidak henti-hentinya karierku meningkat dan meningkat.
Sukses bagiku adalah terus bertambah teman dan teman dan teman.
Sukses bagiku adalah membuat orang-orang yang selalu mendukungku bangga dan bangga dan bangga yang artinya tidak henti-hentinya aku membanggakan mereka.
Ingat!!
Lihat dirimu, lihat diriku..
Sudah jadi apa sekarang?
Hadirkan terus kebahagiaan bagi dirimu sendiri, ibu, ayah, adik-adik, serta orang-orang dekat yang selalu mendoakan dan mendukungmu!!!
Terus berjuang, maju, dan jangan patah semangat.
Rgds, Ridwan Ardiansyah as himself
Nb. Dan aku berharap, saat membaca surat ini aku sedang berada di kota yang benar-benar aku harapkan, Yogyakarta, dan Yuanku sudah menjadi istriku dan sudah mengandung Duan junior. Amien Ya Rabbal Alamien....
Dearest MySelf..
Hari ini aku belajar banyak hal tentang apa arti seorang Ibu, teman, kekasih, persahabatan, dan kasih sayang.
Dalam kehidupan ternyata manis dan pahit justru kita sendiri yang menghadirkan. Hidup yang pahit akan menjadi manis apabila kita membuatnya manis, dan hidup yang manis akan menjadi pahit jika kita tidak bisa menghargai dan mensyukurinya.
Aku berjanji dalam hidupku bahwa ke depan aku akan menjadi orang sukses, sukses bagi diriku, sukses bagi ibuku, sukses bagi ayahku, sukses bagi adik-adikku, sukses bagi belahan jiwaku (I love u yuan), sukses bagi mertuaku, sukses bagi orang-orang yang selalu mendukung dan membanggakanku.
Betapa besar arti kehadiran mereka bagi kehidupanku, membuatku harus tetap menghargai, mengasihi, dan menyayangi mereka. Takkan pernah berubah dan takkan pernah terganti, kasih sayang memang indah untuk selalu dijaga dan dipertahankan.
Sukses bagi diriku adalah menjadikan aku seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap istri dan anakku kelak.
Sukses bagiku adalah menghargai, menghormati, mendoakan, dan menyayangi ayah dan ibu sepenuh hati.
Sukses bagiku adalah tidak henti-hentinya karierku meningkat dan meningkat.
Sukses bagiku adalah terus bertambah teman dan teman dan teman.
Sukses bagiku adalah membuat orang-orang yang selalu mendukungku bangga dan bangga dan bangga yang artinya tidak henti-hentinya aku membanggakan mereka.
Ingat!!
Lihat dirimu, lihat diriku..
Sudah jadi apa sekarang?
Hadirkan terus kebahagiaan bagi dirimu sendiri, ibu, ayah, adik-adik, serta orang-orang dekat yang selalu mendoakan dan mendukungmu!!!
Terus berjuang, maju, dan jangan patah semangat.
Rgds, Ridwan Ardiansyah as himself
Nb. Dan aku berharap, saat membaca surat ini aku sedang berada di kota yang benar-benar aku harapkan, Yogyakarta, dan Yuanku sudah menjadi istriku dan sudah mengandung Duan junior. Amien Ya Rabbal Alamien....
Desember 02, 2008
Tak bisa dipungkiri bahwa ternyata aku harus menjalani itu semua....
Perjalanan karierku kini sedang berada pada tahap dimana aku adalah seorang first-line manager yang artinya aku juga adalah seorang first-line decision maker. Awalnya kurasakan berat dan sulit, karena selain membawahi 4 orang pegawai, ternyata aku juga mengemban amanat dari Kepala Cabang dan Management untuk dapat memanage “pasukan”ku dalam upaya pencapaian target yang diberikan.
Ada perasaan malu saat anak buahku menanyakan sesuatu yang aku tidak tahu, ada perasaan takut saat aku harus memutuskan hal-hal yang aku sendiri ragu untuk memutuskannya, bahkan ada perasaan gelisah pada saat keputusan itu pada akhirnya harus aku ambil.
Di usia ku yang terhitung masih “anak bawang”, ternyata aku harus bisa melakukan itu semua. Ternyata aku harus bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anak buahku, dan juga menjadi seorang leader yang udah seharusnya baik di mata mereka.
Tak bisa dipungkiri bahwa ternyata aku harus menjalani itu semua, aku tak bisa lari dari tanggung jawabku, dan aku tidak bisa mangkir dari sumpah yang sudah kuikrarkan beberapa waktu ke belakang. Aku harus bisa menjalani itu semua.
Setelah aku menjalaninya, ternyata kuncinya adalah ubah mindset dan berani bertanggung jawab. Banyak hal-hal yang aku ubah dalam pemikiranku, karena terkait dengan mindset. Aku tidak bisa lagi terus-terusan bernaung dalam hangatnya pelukan seorang atasan, karena aku harus sudah bisa berjalan sendiri. Aku sudah tidak boleh lagi mengikuti kata-kata hatiku yang berkaitan dengan keegoisan diri dan sifat kekanak-kanakan. Aku harus sudah bisa maju berperang.
Semua hal yang aku lakukan harus bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi posisiku sekarang selain seorang bawahan dari atasanku, juga seorang atasan dari bawahanku. Aku harus bisa mengakomodir semua tugas-tugas yang diberikan kepadaku.
Aku harus berjuang, dan terus berjuang agar karierku tidak berhenti pada tahap ini saja. Masih panjang perjalanan yang harus kutempuh. Masih banyak peluang-peluang yang bisa ku ambil. Dan semua itu hanya bisa aku ambil jika aku mau bekerja keras dan terus meningkatkan kompetensiku.
Aku ragu apakah aku bisa menjalani itu semua, tapi disisi lain aku punya keyakinan untuk menghadapinya. Aku yakin aku bisa maju, tinggal bagaimana aku bisa dewasa dalam menghadapi segala cobaan dan kesulitan yang ada.
Kini waktunya aku untuk terus maju dan maju, tiada kata malas dan tiada kata tidak, bahwa semuanya harus dibawa maju untuk terus maju.
Ada perasaan malu saat anak buahku menanyakan sesuatu yang aku tidak tahu, ada perasaan takut saat aku harus memutuskan hal-hal yang aku sendiri ragu untuk memutuskannya, bahkan ada perasaan gelisah pada saat keputusan itu pada akhirnya harus aku ambil.
Di usia ku yang terhitung masih “anak bawang”, ternyata aku harus bisa melakukan itu semua. Ternyata aku harus bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anak buahku, dan juga menjadi seorang leader yang udah seharusnya baik di mata mereka.
Tak bisa dipungkiri bahwa ternyata aku harus menjalani itu semua, aku tak bisa lari dari tanggung jawabku, dan aku tidak bisa mangkir dari sumpah yang sudah kuikrarkan beberapa waktu ke belakang. Aku harus bisa menjalani itu semua.
Setelah aku menjalaninya, ternyata kuncinya adalah ubah mindset dan berani bertanggung jawab. Banyak hal-hal yang aku ubah dalam pemikiranku, karena terkait dengan mindset. Aku tidak bisa lagi terus-terusan bernaung dalam hangatnya pelukan seorang atasan, karena aku harus sudah bisa berjalan sendiri. Aku sudah tidak boleh lagi mengikuti kata-kata hatiku yang berkaitan dengan keegoisan diri dan sifat kekanak-kanakan. Aku harus sudah bisa maju berperang.
Semua hal yang aku lakukan harus bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi posisiku sekarang selain seorang bawahan dari atasanku, juga seorang atasan dari bawahanku. Aku harus bisa mengakomodir semua tugas-tugas yang diberikan kepadaku.
Aku harus berjuang, dan terus berjuang agar karierku tidak berhenti pada tahap ini saja. Masih panjang perjalanan yang harus kutempuh. Masih banyak peluang-peluang yang bisa ku ambil. Dan semua itu hanya bisa aku ambil jika aku mau bekerja keras dan terus meningkatkan kompetensiku.
Aku ragu apakah aku bisa menjalani itu semua, tapi disisi lain aku punya keyakinan untuk menghadapinya. Aku yakin aku bisa maju, tinggal bagaimana aku bisa dewasa dalam menghadapi segala cobaan dan kesulitan yang ada.
Kini waktunya aku untuk terus maju dan maju, tiada kata malas dan tiada kata tidak, bahwa semuanya harus dibawa maju untuk terus maju.
November 13, 2008
The Mogi’s:
Jabat erat untuk orang-orang hebat penuh semangat…!
Selesai acara kampanye atau orasi atau apalah namanya pokoknya mempromosikan diri, ternyata 2 dari 5 orang calon mengundurkan diri dan/atau gugur dan akhirnya hanya tinggal 3 orang dan salah satunya aku.
Well, pooling time…!!!! Aku lihat beberapa teman yang sebelumnya sekelompok denganku pindah ke kelompok baru. Kesel, gondog, bertanya-tanya, aneh, tidak setia kawan, sedih, ga dipercaya, disepelekan, wah jelek terus pikiranku waktu itu. Kenapa.. kenapa.. kenapa? Kenapa mereka tidak mendukung aku? Tapi malaikat pun berbisik, “..tenang, be positive thinking, mereka hanya perlu suasana baru, kan it’s just a game… lagipula, tuh liat…”. Iya sih just a game, tapi kenapa aku menganggap itu serius yaa?? Eh bener, ternyata ada yang pergi, ada yang datang, dan ada juga yang bertahan.
Pagi menjelang, berkumpullah kami semua, dan tanpa disangka tambah 2 orang lagi untuk nambah kekuatan pasukan. Aku ga tau apa pertimbangan mereka, kasihankah atau soliderkah? Jahat banget ya gue? Hehehe… Tapi, well, welcome anyway…
“Wan, Mogi aja…”
“Apaan tuh?”
“Mogi = Monyet Girang”
“Bukan Moyet Gila? Hehehe..”
“Bukan, Girang..”
“Oke dah, mau Girang, mau Gila, yang penting kita ambil semangatnya aja…”
Dan sekaligus bikin yel-yel dan lengkap dengan gerakannya deh…
Tapi bener lho, mereka semangat semua! Aku ga nyangka sama sekali… Untuk memainkan satu permainan aja aku ga perlu repot-repot untuk “merintah”, mereka d
Loncat-loncatan, panas-panasan, lari-larian, hebat…! Aku salut dengan semangat mereka, walau tidak semua permainan dapat kami selesaikan, mereka tidak mau mundur, terus tertantang, salut….! Tapi maaf, ada satu kesempatan dimana aku harus redam semangat mereka dengan alasan waktu dan tenaga. Aku ga mau satu demi satu anggota timku tumbang dan rontok karena kelelahan, lagipula toh dalam permainan ini aku tidak melihat
Apa yang aku terapkan dalam kepemimpinanku kala itu, bahwa aku bukanlah seorang diktator yang maen tunjuk sini tunjuk sana dalam merintah. Aku coba menjadi seorang leader yang berjiwa fasilitator dan negosiator. Aku akan memberikan penawaran kepada rekan-rekan timku, mereka bersedia dan mampu
Well, permainan berakhir. Aku bangga bisa memimpin mereka, mereka orang-orang hebat yang penuh semangat. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari kesempatan menjadi leader mereka. Tapi sayang, tidak pernah terdengar olehku, tentang penilaian atau testimony bagaimana leadershipku
Oiya satu hal, bahwa kemenangan terbesar dalam hidup adalah kemenangan dalam melawan keegoisan diri sendiri. Itu yang bisa aku simpulkan…
Tulisan ini kupersembahkan untuk semua anggota tim The Mogi, and
Save the Mogi for the best always…!
Dan perkenalkan inilah orang-orang hebat (yang kebetulan) aku yang pimpin..
Langganan:
Postingan (Atom)
Super Mario Bros 3 flash game
Mario Starcatcher 2
